Konservasi Harimau Berbuah Penghargaan

123

ARTHA Graha Peduli (AGP) Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bersama sembilan warga/swasta lainnya yang peduli lingkungan hidup. Penyerahan ini dalam kaitan dengan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2017 di Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur.

“Kami bersyukur dan bersukacita atas penghargaan yang diserahkan Menko Perekonomian Bapak Darmin Nasution didampingi Menteri LHK Ibu Siti Nurbaya,” sebut Ardi Bayu, Koordinator Konservasi Alam TWNC yang menerima penghargaan di Situbondo, Kamis (10/8).

Ardi menuturkan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi menyatakan PT Adhiniaga Kreasinusa yang mengelola TWNC dinilai komit pada rehabilitasi harimau sumatra dan pengendalian spesies invasif.

Dalam surat keputusan itu, pemerintah menilai penerima penghargaan itu baik secara individu, perusahaan, ataupun masyarakat terbukti melakukan kegiatan yang menunjang kelestarian lingkungan hidup dan kehutanan khususnya dalam bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

“Penghargaan ini diberikan kepada TWNC sebagai pemegang izin lembaga konservasi khusus terbaik,” ungkap Ardi didampingi Icuk S Laksito dari TWNC.

Sebagaimana diketahui, TWNC bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang dibentuk atas kerja sama berbagai pihak, seperti Yayasan Artha Graha Peduli (AGP), TNBBS, BKSDA Bengkulu, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sejak 2007, TWNC yang berada di bawah AGP dibantu Taman Safari Indonesia menaruh perhatian penuh terhadap populasi harimau sumatra yang berada di ambang kepunahan dengan mendirikan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS). Pendirian PRS bertujuan menyelamatkan dan memulihkan harimau sumatra yang mengalami konflik dengan manusia.

Pada pertengahan 2008, lima ekor harimau sumatra yang berkonflik dengan manusia direlokasi ke PRS TWNC dan satu ekor buaya langsung dilepasliarkan di Kawasan Tambling.

Setelah direhabilitasi, dua ekor harimau sumatra tersebut dilepasliarkan pada 22 Juli 2008, sedangkan yang lainnya masih membutuhkan perawatan di PRS TWNC.

Tujuh harimau
Setahun kemudian, tepatnya pada 15 Oktober 2009, PRS TWNC diresmikan sebagai Lembaga Konservasi Satwa oleh menteri kehutanan pada saat itu, Zulkifli Hasan. Total, sampai saat ini TWNC telah empat kali melepasliarkan tujuh ekor harimau sumatra serta satwa-satwa langka lainnya seperti kukang, buaya muara, penyu, dan burung elang.

Pelepasliaran harimau sumatra di TWNC pertama kali dilakukan Menteri Kehutanan MS Kaban pada 22 Juli 2008. Lalu pelespasliaran kedua oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada 22 Januari 2010. Kemudian ketiga oleh Menteri KHLK Siti Nurbaya dan Menteri KP Susi Pudjiastuti pada 3 Maret 2015.

“Pelepasliaran yang terakhir dilakukan pada 10 Juni 2017 oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, seekor harimau sumatra, Muli, yang tidak berkonflik dengan manusia, tetapi ditinggalkan induknya dalam kondisi luka parah di bagian perutnya di dekat Pos Penjagaan TWNC. Pada saat yang bersamaan Panglima TNI juga melepasliarkan puluhan penyu dan ratusan burung ke alam liar,” jelas Ardi. (RO/H-1)
Sumber

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”

“Kepedulian Kami adalah panggilan sebagai anak bangsa Indonesia untuk berbuat terhadap sesama yang tertimpa musibah”