Indonesia Pavilion di World Expo Milano 2015 yang Membanggakan

Saya yakin saat ini mendiang Kang Didi Petet tersenyum dari surga melihat kondisi Indonesia Pavilion di World Expo Milano 2015 sekarang. Masih terngiang jelas di ingatan di hari kedua pembukaan Indonesia Pavilion, mendiang Kang Didi Petet sendirian menjaga pintu masuk Indonesia Pavilion seperti menunggu kedatangan seseorang atau rombongan.

Wajah lelah Almarhum sangat jelas terlihat, namun tetap tertutupi dengan senyum dan kehangatan khas almarhum ketika tampil di layar kaca. Kala itu, Indonesia Pavilion mengalami banyak kejadian seperti kegagalan beberapa acara pembukaan, seperti peragaan busana dan tampilnya band Indonesia ternama yang tidak sesuai dengan agenda awal, sehingga membuat perancang busana yang terlibat di acara tersebut mengeluarkan press releasekekecewaan.

Ditambah lagi barang tampilan yang masih “nyangkut” di kepabeanan Italia, termasuk patung badak jawa yang baru berhasil tiba di Indonesia Pavilion di hari kedua pembukaannya. Banyak sekali kritik pedas di media sosial dari masyarakat Indonesia di Eropa yang kecewa ketika datang berkunjung pada awal pembukaannya. Beberapa menteri pun turun tangan, bahkan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, sampai harus kembali lagi ke Milan dari kunjungan ke Warsawa untuk memantau perbaikan Indonesia Pavilion.

Lebih Menarik
Pada 31 Juli 2015, untuk ke tujuh kalinya saya mengunjungi Indonesia Pavilion dan kunjungan kali ini sungguh merupakan sebuah kejutan bagi saya karena wajah tampilan Indonesia Pavilion sudah sangat berbeda dan jauh lebih menarik dari sebelumnya. Sungguh merupakan suatu metamorfosis yang di luar dugaan. Bagi suami saya yang baru sempat berkunjung dua kali ke Indonesia Pavilion, menurutnya ada suatu lompatan yang sangat besar dari hari kedua pembukaan sampai saat ini.

Dari pintu masuk saja, banyak pengunjung mancanegara yang minta tolong diabadikan melalui jepretan kamera pribadi mereka di depan Indonesia Pavilion. Padahal sebelumnya,boro-boro minta diabadikan, para pengunjung terkesan seperti numpang lewat begitu aja. Sudah ada taman kecil yang cantik di depan Indonesia Pavilion sehingga terlihat asri dibandingkan awal-awal pembukaan.

Memasuki Indonesia Pavilion, kita disambut dengan kolase foto-foto anak-anak Indonesia berwarna hitam putih dengan tulisan “Selamat Datang”, “Welcome” dan “Benvenuto”, serta gong yang dibunyikan sesekali waktu. Sebelumnya hanya tulisan “Indonesia Pavilion, Stage of the World, Expo Milano 2015”.

Ketika kita memasuki area Indonesia Pavilion, akhirnya saya melihat isi tampilan yang sesuai dengan tema World Expo Milano 2015 yaitu “Feeding the Planet, Energy for Life”. Tampak terlihat konsistensi dan tematik dari tampilan demi tampilan yang ada dibandingkan sebelumnya yang terkesan seperti bazar ala kadarnya. Terlihat tampilan peralatan dapur tradisional lengkap dengan penjelasan jenis masakan yang biasa dimasak dengan peralatan dapur tersebut di belakangnya. Tampilan ini mengingatkan saya akan sebuah museum nasional di Singapura.

Kemudian di samping kanannya terlihat tampilan bubu, yaitu alat penangkap ikan tradisional khas Indonesia lengkap dengan penjelasannya. Lalu ada penjelasan mengenai Indonesia and the Coral Triangle lengkap dengan peta daerah kunjungan wisata, seperti Derawan, Bunaken, Bali, Komodo, Wakatobi, dan Rajat Ampat.

Di tengah area tampak patung Dewi Sri yang tingginya kira-kira 1 meter diletakkan di sebuah meja kayu dan di bagian atasnya dikelilingi amphitheater sehingga para pengunjung dapat melihat langsung berbagai atraksi penampilan berbagai produk budaya Indonesia. Lalu tampak lagi tampilan berupa penjelasan mengenai sharks sanctuary, pygmy sea horse, coconut cctopus, dan mimic octopus, dan Indonesia: a Maritime Nation.

Tampak juga tampilan batik Mega Mendung, Loro Blonyo, dan wayang lengkap dengan penjelasannya. Yang paling menarik adalah peta kepulauan wilayah Indonesia yang terbuat dari kayu dan dibuat sebagai wadah rempah-rempah yang berasal dari Indonesia, seperti cengkih, pala, dan asam. Para pengunjung asyik mengamati dan mencium, bahkan sampai membawa pulang rempah-rempah khas Indonesia tersebut.

Saya melihat pemandangan para pengunjung yang betah berada di area pameran dan terlihathappy, bahkan beberapa dari mereka mengucapkan kata terima kasih dan ada juga pengunjung orang Italia yang mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia seolah memori dia ketika berkunjung ke Indonesia beberapa tahun silam sangat berkesan dalam.

Sungguh pemandangan yang sangat berbeda dibanding sebelumnya, di mana ketika itu para pengujung yang datang ke Indonesia Pavilion hanya sekadar melewati area pameran seluas 1.175 meter persegi, karena memang terlihat kosong tidak ada isinya ataupun kalau ada isinya terkesan asal ada. Namun sekarang, seluruh area terisi dengan tampilan yang sarat informasi dan menarik. Bahkan area yang tadinya diisi meja makan Bogor Cafe Restaurant, sekarang menjadi area teknologi oculus yang membuat para pengunjung seolah memperoleh pengalaman berkunjung ke Indonesia dengan metode augmented reality. Adapun Bogor Cafe Restaurant berada di area tersendiri di sebuah ruangan di sisi kiri Indonesia Pavilion.

Indonesia Pavilion adalah salah satu peserta di World Expo Milano 2015 yang menyediakanfresh food dan bukan frozen food. Chef-chef andalan dari hotel-hotel jaringan Artha Graha, seperti Hotel Borobudur Jakarta dan Discovery Kartika Plaza Kuta Bali diterjunkan untuk seluruh masakan yang tersedia di Indonesia Pavilion. Sebanyak tiga area pilihan dapat dipilih oleh para pengunjung, yaitu menu prasmanan atau buffet dengan harga 20 euro, menu cepat saji atau fast food dengan harga 10 euro, dan menu sate dengan harga 5 euro tanpa minuman.

Yang terlihat paling ramai adalah menu fast food karena harganya relatif terjangkau. Saya sendiri beserta suami dan anak memilih menu fast food, yakni nasi goreng, bakmi goreng, kentang balado, dan ayam kecap. Masakannya memang sungguh lezat, cukup untuk mengobati kerinduan rasa kuliner khas Indonesia.

Sebenarnya mengenai harga menu-menu di atas sudah cukup murah karena rata-rata harga makanan di paviliun-paviliun para peserta World Expo Milano 2015 memang standar harga turis. Dan harga menu makanan Indonesia yang ada di Indonesia Pavilion tidak bisa dibandingkan dengan harga makanan di Indonesia sendiri mengingat kurs rupiah saat ini sedang melemah. Jadi menurut saya masih wajar.

Di teras depan Indonesia Pavilion berdekatan dengan area menu sate, ada pembatik Jawa Timur yang sedang memperagakan cara membatik secara live sehingga para pengunjung bisa melihat dan ikut mencoba, bahkan banyak anak yang tertarik untuk mencoba membatik dengan canting tentunya. Acara tersebut diprakarsai oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, didatangkan khusus dari Indonesia dan hanya berlangsung dari tanggal 29 Juli sampai 2 Agustus 2015 saja.

Saya sempat berbincang dengan Kent Dixon yang merupakan deputy Pavilion Director dari Indonesia Pavilion dan mendapatkan informasi bahwa pada 15 sampai 17 Agustus 2015 akan diadakan acara untuk memperingati hari kemerdekaan ke-70 RI. Akan banyak sekali acara termasuk pemecahan rekor MURI untuk tumpeng tertinggi, belum lagi door prize tiket penerbangan pulang pergi Milan-Jakarta dan masih banyak lagi, di mana para sponsor untuk acara ini akan terus bertambah. Adapun harga tiket khusus untuk memperingati hari kemerdekaan tersebut adalah 20 euro per hari untuk satu orang khusus untuk warga negara Indonesia dan keluarga dengan maksimum 8 tiket per transaksi, 25 euro per hari untuk orang asing dan khusus untuk pengunjung yang ingin datang tiga hari berturut-turut, harga tiket adalah 50 euro per orang. Harga tiket tersebut sudah termasuk tiket masuk ke World Expo Milano, di mana harga normal adalah 39 euro. Diharapkan warga Indonesia yang berada di luar negeri, khususnya yang tinggal di Italia dan benua Eropa sekitarnya datang dan berpartisipasi di acara ini.

Bagi yang belum sempat berkunjung ke Indonesia Pavilion, ini saatnya berkunjung dan menikmati Indonesia Pavilion. Bagi yang sudah pernah berkunjung atau memiliki season passWorld Expo Milano 2015, ini saatnya berkunjung lagi dan melihat wujud metamorfosis dari tampilan Indonesia Pavilion. Kalau saya pernah menjadi narasumber live dari Indonesia Pavilion di minggu kedua setelah pembukaan untuk sebuah acara berita televisi swasta dengan segmen berjudul “Paviliun Indonesia di Milan Expo Mengecewakan”, kali ini saya dengan lantang mengatakan: “Paviliun Indonesia di Milan Expo Membanggakan”.

 

Sumber

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”

“Kepedulian Kami adalah panggilan sebagai anak bangsa Indonesia untuk berbuat terhadap sesama yang tertimpa musibah”